VANCOUVER, KOMPAS.com — Seorang akademisi Inggris yang tertidur dalam sebuah penerbangan terbangun di sebuah hanggar setelah awak kabin tanpa sengaja meninggalkannya di pesawat.

Kris Lines, penumpang sial itu, adalah dosen hukum olahraga di Universitas Staffordshire di Inggris. Ia dibangunkan tanpa sengaja oleh seorang mekanik pesawat yang terkejut setengah mati, 90 menit setelah pesawat mendarat di Vancouver, Kanada. Di sana, Lines seharusnya jadi pembicara dalam sebuah konferensi internasional.

Lines, sebagaimana dilansir Telegraph, Jumat (9/4/2010), telah berjuang keras untuk tetap terjaga selama 22 jam perjalanannya dari Birmingham ke Calgary melalui Heathrow. Ia meminum Coca-Cola untuk memastikan dirinya tidak jatuh tertidur di bandara dan ketinggalan penerbangan ke Vancouver.

Setelah merasa aman di bagian akhir perjalanannya, ia justru tertidur nyenyak dan baru terbangun di sebuah hanggar di bandara Vancouver. Saat itu pesawat telah mendarat, penumpang kosong, dan pesawat berada di hanggar dengan hanya dia yang masih berada di pesawat.

Lines mengatakan, “Saya tidak sadar sedikit pun. Saya tidak berpikir saya perlu mengatur alarm untuk membangunkan saya pada akhir perjalanan. Saya dibangunkan seorang pria yang menggunakan lampu pijar, dia sama terkejutnya seperti saya. Saya berada di pesawat yang kosong, tersikut di bahu, dan saya pikir semua orang baru saja turun dua atau tiga menit yang lalu.”

“Saya panik lalu langsung menyambar barang-barang saya. Namun pria itu bilang, ‘Jangan khawatir, tenanglah, orang lain telah turun satu setengah jam yang lalu’. Saat itu belum begitu aneh sampai saya turun dari tangga dan saya ternyata tidak berada di bandara, saya berada di sebuah hanggar.”

Lines mengatakan, staf di hanggar itu mengambil salinan boarding pass-nya sebelum mengantarnya kembali ke terminal. Ia mengatakan, “Sepertinya hanya hal kecil, kami tertawa dan bercanda tentang hal itu. Tetapi yang gila adalah bahwa ketika Anda hendak terbang, mereka melakukan pemeriksaan keamanan yang begitu banyak, tetapi mereka lalu meninggalkan saya sendirian di area yang aman selama satu setengah jam.”

Ia melanjutkan, “Tas saya bahkan menunggu di ban berjalan. Kalau di Inggris, begitu ada sebuah koper yang tidak diambil dalam sebuah bangunan, umumnya akan diledakkan.”

Lines mengatakan, dirinya telah menulis surat kepada Air Canada untuk memperingatkan maskapai itu tentang masalah besar dalam bidang keamanan mereka. Kepada awak kabin dia hanya minta untuk berkonsentrasi jika mendapat penumpang berkursi roda, saat pesawat mendarat pastikan bahwa mereka telah melakukan pemeriksaan dengan cermat.

Air Canada meminta maaf secara tertulis atas kejadian tersebut dan menawarkan potongan harga 20 persen kepada Lines pada penerbangan berikutnya sebagai tanda adanya niat baik. Namun, Lines mengatakan, dia terkejut dengan reaksi maskapai itu, yang menurut dia telah “menguburkan kepalanya sendiri di pasir”. Pihak maskapai mengatakan bahwa mereka bisa memelintir kejadian itu dengan menyebut peristiwa itu sebagai tanda betapa nyamannya penumpang dalam penerbangan mereka.

Lines mengatakan, “Jika ada orang yang sudah tua atau anak kecil, atau jika saya bangun sendiri, akan sedikit berbeda ceritanya. Namun, itu merupakan cerita yang bagus untuk menghibur orang dengan mengatakan, bagaimana bisa, Anda tidak melihat itu dalam Rough Guides (buku panduan perjalanan)?

“Moral dari cerita ini adalah, Anda sebaiknya mengatur alarm atau pakai lampu neon saat Anda terbang (bersama Air Canada).”