Polisi Kosta Rika, Ahad, membebaskan 36 orang Asia termasuk 13 WNI dari kondisi “tak manusiawi” di dua kapal penangkap ikan yang dioperasikan oleh perusahaan asing penangkapan ikan, tempat mereka dipukuli dan dipaksa bekerja tanpa bayaran, demikian laporan media setempat.

Orang-orang itu –15 warga negara Vietnam, 13 orang Indonesia, lima Filipina, dua orang Taiwan dan satu orang China– dipaksa bekerja selama 20 jam per hari, diberi sedikit makanan dan dipecut sebagai hukuman, kata surat kabar La Nacion.

“Mereka berada dalam kondisi yang sepenuhnya tidak sehat, tak manusiawi, berdesak-desakkan,” kata Jorge Rojas Vargas, Direktur Lembaga Penyelidikan Kehakiman (OIJ).

Semua orang itu diberi tahu mereka akan dibayar 250 dolar AS per bulan, tapi tak ada uang kontan yang diberikan dan operator kapal Taiwan tersebut mengaku “telah mengirim pembayaran” kepada keluarga kelompok pria itu. Paspor mereka disita dalam upaya mencegah mereka melarikan diri.

“Ini adalah perbudakan modern,” kata Direktur Migrasi Mario Zamora sebagaimana dikutip.

Pemilik kapal penangkap ikan tersebut tak diidentifikasikan, tapi pihak berwenang menyatakan dua pria Taiwan dan satu orang Kosta Rika ditangkap dalam operasi itu.

Pihak berwenang sedang menyelidiki kasus itu sebagai tindakan yang diduga merupakan penyelundupan manusia –kegiatan pasar gelap paling menggiurkan ketiga setelah penyeludupan narkotika dan senjata.

Perdagangan tersebut menghasilkan 9,5 juta dolar AS per tahun di tingkat global, demikian perkiraan PBB.

Polisi Kosta Rika telah menyelidiki kasus itu selama empat bulan, sejak sembilan pria Vietnam melarikan diri dengan cara melompat dari kapal, berenang ke pantai dan memberitahu petugas, kata beberapa pejabat.