Kota Vatikan (SIB)
Perdebatan mengenai keaslian Shroud of Turin (kain kafan Yesus Kristus) kembali ramai setelah peneliti di Vatikan menyatakan telah melihat secara samar-samar sebuah tulisan di kain kafan tersebut. Tulisan kusam di kain kafan Yesus tersebut meyakinkan sang peneliti bahwa kain itu memang kain yang dipakai saat penguburan Yesus.
Seorang peneliti arsip di Vatikan, Barbara Frale, mengatakan bahwa setelah melakukan penelitian terhadap tulisan samar-samar tersebut dengan bantuan komputer, terlihat bahwa tulisan tersebut menggunakan aksara Yunani, Latin, dan Arab.
Salah satu tulisan yang berhasil diperoleh Barbara adalah kata-kata “(J)esu(s) Nazarene” yang berarti Yesus dari Nazareth yang ditulis dalam bahasa Yunani. “Tulisan tersebut membuktikan bahwa kain tersebut asli. Alasannya, yang tertulis bukanlah Yesus Kristus karena di zaman tersebut memang belum ada agama Kristiani,” ujar Barbara.
Ditambahkannya, oleh seorang pemalsu sekalipun, Yesus akan ditulis dengan merujuk pada keilahiannya. Bila tidak, seorang pemalsu pun akan mendapat risiko dicap sebagai seorang yang tidak beragama. “Bila yang kita temukan adalah tulisan “Yesus Kristus” atau “Putra Allah” maka jelas dapat kita pertimbangkan bahwa kain kafan tersebut adalah palsu,” ditegaskan Barbara.
Sebelumnya, para sejarawan menyatakan Shroud of Turin adalah sebuah hasil pemalsuan yang dilakukan pada abad pertengahan. Keyakinan para sejarawan tersebut juga diperkuat dengan uji karbon maupun tanda-tanda lain yang mereka yakini.
Shroud of Turin saat ini disimpan oleh Gereja Katholik yang berpusat di Vatikan di sebuah tempat terisolasi di katerdral Turin. Kain kafan tersebut memiliki panjang empat meter dan lebar satu meter dengan beberapa bagian mengalami kerusakan, termasuk akibat api yang pernah membakarnya. Pihak Gereja Katholik sendiri tidak mengklaim mengenai otentisitas kain tersebut. Gereja Katholik hanya menyebutnya sebagai simbol dari penderitaan yang dialami Yesus Kristus.